agen bola terpercaya
BandarQ Online domino168 tahunqq  Poker BandarKiu Online

Calon Besanku

Cerita Sex Dewasa Mesum Ngentot Selingkuh STW Terbaru 2017 – Kejadian ini terjadi sekitar 6bulan yg lalu ketika pesta pernikahan anakku di kota kecil di daerah Jawa Timur tepatnya di rumah calon mertuanya yg bernama pak Bekti (55th)dan bu Bekti (43th) yg kebetulan menjadi kepala Desa di daerah tersebut. Aku dan istriku sebetulnya tdk setuju dgn pernikahan anakku ini karena keduanya baru lulus kuliah dan belum ada yg bekerja. Pikirku biar anankku dapat pekerjaan yg mapan dulu baru menikah tp pak Bekti dan istrinya terus mendesak agar mereka berdua segera dinikahkan agar tdk terjadi hal-hal yg tidak diinginkan selain itu karena bu Bekti juga sudah ingin menimang cucu. Berhubung anakku setuju dgn permintaan calon mertuanya dan saya selaku orang tua pihak laki-laki tidak bisa berbuat apa-apa selain merestuinya.

Cerita Sex Calon Besanku

Singkat cerita, 3hari sebelum hari pernikahan anakku, aku dan istriku sudah berada di Jawa Timur. Kami disambut hangat oleh calon besanku serta keluarga besarnya. Aku dan istriku tidak pernah membayangkan sebelumnya bisa berada di rumah yg sangat besar itu yg dikelilingi tanaman buah-buahan dan ada pendopo yg luas serta disalah satu sisi ada seperangkat gamelan jawa. Di rumah itu pak Bekti dan bu Bekti sangat disegani. Yang membuatku lebih terpesona lagi yaitu pesona bu Bekti meskipun usianya sudah tak muda lagi tapi tubuh bu Bekti masih terlihat seksi. Tubuh yg semampai dan tidak terlalu tinggi serta kain kebaya yg dipakainya serasi dgn warna kulitnya yg putih bersih terlihat sangat anggun. Ditambah dgn wajah yg masih terlihat cantik sehingga membuatku sangat terpesona. Tak ingin aku rasanya memalingkan pandanganku sedetikpun. Kadang aku harus mencuri pandang agar istriku tak melihat kalo aku sedang memandang kagum kearah bu Bekti. Tapi rupanya bu Bekti sadar kalo aku sering mencuri pandang kearahnya bahkan dia terlihat tersenyum saat aku meliriknya.

Hari pertama setelah kedatanganku, sehabis makan siang bersama, bu Bekti disuruh sama pak Bekti agar mengantar aku dan istriku untuk beristirahat di rumah sebelah yg masih satu halaman dgn rumah induk. Setelah sampai di rumah tersebut bu Bekti menunjukan beberapa tempat termasuk kamar mandi yg jaraknya agak jauh ke belakang. Setelah selesai bu Bekti pamit untuk kembali ke rumah Induk.

“Terima kasih y mbak atas semuanya” kataku sambil menjabat tangannya. Jabatan itu tidak segera kulepas tp bu Bekti segea sadar dan menarik tanganya sambil tersenyum manis.

Sore harinya aku dan istriku duduk santai di teras, kulihat pak dan bu Bekti berjalan mendekati kami lalu ngobrol bersama. Tak lama kemudian datang 2 wanita membawa pisang goreng dan teh hangat. Kami mengobrol membicarakan acara pernikahan anak kami, sesaat kemudian bu Bekti pamit untuk ke belakang, (entah apa yg akan dilakukannya) sehingga obrolan kami dilanjutkan cuma bertiga saja. Mungkin karena banyak minum aku merasa ingin buang air kecil dan lalu aku permisi untuk ke belakang sebentar. Aku berjalan menuju kamar mandi yg tadi sudah ditunjukan oleh bu Bekti. Karena sudah sangat kebelet untuk kencing aku berlari kecil sambil menurunkan resletingku dan mengeluarkan penisku, sesampainya di depam kamar mandi aku langsung saja mendorong pintu kamar mandi tersebut, tapi alangkah kagetnya ketika di dalam kamar mandi kulihat bu Bekti sedang mandi, dia sedang menggosok-gosok badannya. Bu Bekti pun kaget ketika aku tiba-tiba masuk ke dalam kamar mandi secara reflek bu Bekti pun teriak kecil.

“Auuuw…maaasss…” teriaknya sambil menutupi badannya dgn kedua tangannya.
“Ma…maaf mbak saya tidak tau kalo mbak sedang mandi” ucapku pelan supaya tak ada yg mendengar.
“Sudah sana keluar nanti kalo ada yg lihat…lagian mas mau ngapain sih?” ucap bu Bekti pelan.
“Saya kebelet kencing mbak…” jawabku.
“Ya udah cepetan kencing dan cepat keluar” ucap bu Bekti.

Tanpa berkata lagi aku segera mengeluarkan penisku yg tadi sempat kumasukan lagi. Terlihat penisku sudah setengah tegang karena melihat bu Bekti telanjang, apalagi ketika melihat toket dan memeknya yg ditumbuhi bulu jembut yg hitam lebat. Aku lalu kencing dgn posisi miring sambil sesekali aku menoleh kearah bu Bekti. Saat kutoleh terlihat bu Bekti sedang memperhatikan penisku. Setelah selesai kencing aku kembali memasukan penisku ke dalam celana dalamku, sambil beranjak keluar pintu kamar mandi kusempatkan tangan kananku mencolek toketnya yg ditutupi dgn tangannya sambil berkata,

“Maaf ya mbak…”. Secara reflek bu Bekti menampar tanganku seraya berbisik,
“Kurang ajar, awas ya nanti”.

Aku segera kembali ke teras, kulihat istriku dan pak Bekti masih asyik mengobrol. Aku pun kembali duduk di samping istriku seolah-olah tak terjadi apa-apa, tapi istriku tiba-tiba menyeletuk,

“Cuma kencing saja bajuknya kog sampai basah semua pak”. Aku tak menanggapi perkataan istriku dan mencoba menenangkan diri sambil meminum segelas teh yg telah disediakan. Setelah beberapa saat, bu Bekti datang dari arah belakang dgn memakai daster. Meskipun begitu tetap saja membuatku terpesona apalagi bentuk kakinya yg kecil serta putih mulus. Setelah duduk bu Bekti menawarkan mandi kepadaku dan istriku.

“Pak… buk, silakan mandi dulu biar terasa segar sebelum kita makan malam” ucapnya.

Beberapa menit kemudian aku segera ke kamar mengambil baju ganti dan langsung pergi ke kamar mandi. Senagaj pintu kamar mandi tidak kukunci dari dalam dgn harapn bu Bekti akan tiba-tiba masuk dan akan melakukan hal sama seperti yg kulakukan tadi, tp kupikir mana mungkin, jadi segera kubuang pikiran itu jauh-jauh. Sambil mengosok-gosok badan aku membayangkan tubuh bu Bekti. Walopun sudah berumur tp toketnya masih terlihat kencang dan memeknya yg tertutupi jembut yg lebat dan hitam. Seketika penisku jadi menegang dan semakin mengeras ketika kuelus-elus menggunakan sabun. Sampai mandiku selesai harapanku tinggal harapan saja. Ketika aku selesai mandi dan kembali ke teras ternyata pak dan bu Bekti serta istriku masih asyik ngobrol. Sambil duduk kembali aku gantian menyuruh istriku untuk mandi.Malam hari kami berempat makan malam bersama dan dilanjutkan dgn mengobrol kembali di teras sampai larut malam.

Esok harinya, aku dan istriku berencana pergi ke kota Malang yg jaraknya ga begitu jauh kira-kira 2 jam perjalanan dgn mobil untuk menjemput anakku yg nomer 2 yg sedang kuliah disana agar bisa mengikuti acara pernikahan kakaknya. Tapi entah karena makan malamku yg terlalu banyak ato karena ngobrol sampai larut malam perutku pagi itu terasa sakit sehingga membuatku beberapa kali harus ke belakang. Sehingga aku menyuruh istriku saja yg menjemput anak kami diantar dgn sopir. Seberangkatnya istriku, tak lama kemudian pak dan bu Bekti muncul di kamarku menanyakan keadaanku.

“Pagi pak, kata ibu, bapak sedang sakit perut ya? maaf apa mungkin ada makanan yg dihidangkan tidak cocok dgn perut bapak” tanya pak Bekti dgn penuh rasa khawatir.
“Eeehh….bukan sakit perut kog pak” jawabku sambil kutinggikan bantalku sehingga posisi tidurku setengah duduk.
“Cuma masuk angin kayaknya pak…paling sebentar lagi juga sembuh” imbuhku sambil kupandangi keduanya secara bergantian.
“Bapak biasanya minum obat apa jika masuk angin, biar saya ambilkan” kata bu Bekti.
“Ga usah bu…tadi sudah dipijitin istri saya, biasanya sih dikerokin, tapi karena takut ke Malangnya kesiangan jadi kerokannya ga jadi” sahutku.
“Kalo biasanya dikerokin sembuh, biar istri saya aja pak yg ngerokin, dia ahlinya dalam kerokan” kata pak Bekti. Aku hanya terdiam.
“udah bu sana ambil alat kerokmu, tolong pak Udin dikerokin biar cepat sembuh dan setelah itu disuruh minum tolak angin biar segera baikan soalnya kan besuk ajara nikahan anak kita” ujar pak Bekti pada istrinya.

Tanpa disuruh lagi bu Bekti segera mengambil alat kerokan serta segelas air minum dan obat tolak angin. Setelah meletakkan barang bawaannya di meja bu Bekti berkata,

“Pak lebih baik kaosnya dibuka saja biar leluasa ngeroknya” kata bu Bekti. Saat itu pak Bekti masih berada di kamarku, dia kemudian malanjutkan perkataan bu Bekti,
“Iya pak lepas saja”
“Oh iya bu aku mau ke KUA sebentar menyelesaikan administrasinya buat besuk” imbuh pak Bekti.
“Iya pak jangan lama-lama ya…masih banyak yg belum beres lho di rumah” jawab bu Bekti sambil berjalan keluar mengantarkan pak Bekti pergi. Tak lama kemudian bu Bekti kembali ke kamarku dan menutup pintu kamar.
“Lho mas, kaosnya kog belum dibuka” kata bu Bekti ketika melihatku masih tiduran.
“ga ah mbak malu” jawabku sambil duduk dipinggir tempat tidur.
“Kenapa malu, lagian udah sama tuanya kog…udah cepetan buka” kata bu Bekti.

Tanpa disuruh lagi segera kubuka kaos yg kupakai dan terus duduk membelakangi bu Bekti, dan tiba-tiba bu Bekti mencubit pinggangku sambil berkata,

“Ih mas, kamu udah tua masih saja genit ya…”. Karena cubitannya agak kuat dan secara tiba-tiba membuatku kaget dan berteriak
“Aduuuh”. Lalu kuputar badanku sehingga kami duduk berhadapan. Lalu kuambil barang yg berada ditangannya dan kutaruh di meja. kemudian kupegang kedua bahunya sambil kukatan,
“Mbak, kamu yg membuatku jadi genit…”. Kemudian kupeluk erat tubuhnya terasa sekali toketnya mengganjal di dadaku. Aku lalu mulai menciumi bibirnya, kujulurkan lidahku ke dalam mulutnya. Nafas kami berdua pun mulai tak beraturan. Tanganku pun mulai bergerilya menyusup ke dalam kemeja dan mengelus-elus toketnya.

Disela-sela ciuman kami terdengar bu bekti mendesah manja. Tnagn bu Bektipun tak tinggal diam, diarahkannya ke celanaku dan mengelus-elus penisku dari luar celana. Karena aku sudah terlalu bernafsu aku langsung mengangkat berdiri tubuh bu Bekti dan mulai melepaskan seluruh pakaiannya. Meskipun tanpa penolakan tp bu Bekti sempat berkata manja padaku,

“Iiiihhh mas jangan nakal deh…”. Mendengar ucapan nakal bu Bekti aku semakin tak tahan ingin segera menyetubuhinya. Aku lalu melapskan celana kolorku serta celana dalamku. Aku dan bu Bekti pun sekarang dalam kedadaan sama2 telanjang. Begitu melihat penisku yg sudah menegang bu Bekti kembali mengelus-elusnya sambil berkata,

“Ayo mas masukin sekarang aja keburu suamiku pulang”. Tanpa pemanasan lagi segera aku merebahkan tubuh Bu Bekti dan lalu aku menindihnya. Perlahan aku memasukan batang penisku ke dalam memek bu Bekti yg sudah basah. Dan tanpa ada kendalan penisku pun berhasil masuk ke dalam memeknya, “Bleeessss…” diiringi dgn desahan bu Bekti,
“Sssstthhhh…aaahhh….”
“Mantap ga buuu?” tanyaku.
“Aduh mas mantap sekali….ayo mas genjokan penismu di memekku” pinta bu Bekti. Tanpa disuruh dan tanpa aba-aba segara aku mengenjot memeknya secara perlahan namun mantab. Tak henti-hentinya bu Bekti mendesah dan mengerang merasakan kenikmatan yg kuberikan pada memeknya.
“Ayo mas, sodok lebih kencang lagi…penismu benar-benar mantab….” desahnya. Ritme genjotanku pun semakin kupercepat dan kutambihi lagi tenangaku. Sehingga membuat Buketi serta merta teriak keenakan.”
“Ayo mas genjot terus mas, aku mau keluaaarrr….” erangnya manja. Tak berapa lama kemudian tubuh bu Bekti mengejang dan kedua tanganya mencengkeram kedua lenganku dia berteriak,
“Aaaaahhh…aku keluaaar maaasss…enak sekaliii…..”. Bu Bekti telah meraih orgasmenya. Tak berapa lama aku juga merasakan akan ada sesuatu yg akan keluar dari dalam penisku, dan dalam beberapa genjotan aku pun tak tahan dibuatnya. Sambil menggenjot keras aku berteriak,
“Aaaahhh….nikmaaaatttt….CROOOTTT…CROOOTTT…CROOOTT>…”

Seluruh spermaku tumpah ke dalam memek bu Bekti. Kami berdua terkapar diatas kasur dgn nafas ngos-ngosan. Setelah beberapa saat dan ketika nafas kami kembali normal aku dan bu Bekti segera berpakaian kembali. Bu Bekti segera keluar dari kamarku dan aku kembali tiduran di kasur kamarku. Hingga akhirnya pak Bekti pulang dari KUA.

TAMAT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*